Jadwal Waktu Sholat Ponorogo :
Minggu, 3 Mei 2026

[praytime_single fajr=true pref=”| Subuh :”]

[praytime_single sunrise=true pref=”| Terbit :”]

[praytime_single dhuhr=true pref=”| Dzuhur :”]

[praytime_single asr=true pref=”| Asar :”]

[praytime_single maghrib=true pref=”| Maghrib :”]

[praytime_single isha=true pref=”| Isya :”]

Mendudukkan Akal di Singgasana Jiwa: Sebuah Renungan Akhir Puasa

Fuady Abdullah
Komisi Fatwa MUI Ponorogo

Ramadhan di fase pengujung mengharuskan setiap pribadi untuk menundukkan pandangan batin guna menangkap esensi paling mendasar dari ibadah puasa. Sesungguhnya, madrasah lapar dan dahaga yang dijalani sebulan penuh merupakan sebuah tamrinun nafs, yakni latihan keras untuk menundukkan tabiat diri agar patuh di bawah komando akal yang jernih. Allah SWT telah menganugerahkan kemuliaan kepada Bani Adam sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Isra ayat 70, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” Inti dari kemuliaan ini terletak pada eksistensi akal yang berfungsi mengenal Sang Pencipta serta membedakan kebenaran dari kebatilan. Akal inilah identitas sekaligus inti kemanusiaan yang paling hakiki.

Namun, dalam realitas kehidupan modern yang serba instan dan penuh fitnah, manusia sering kali terjebak dalam krisis pengendalian diri. Dalam perspektif tasawuf, jiwa manusia kerap bersifat baghiyah atau membangkang; ia patuh sesaat namun memberontak di saat lain. Syahwat manusia ibarat kuda liar yang jika dibiarkan tanpa kendali akan menyeret penunggangnya ke jurang kehancuran. Di sinilah puasa hadir sebagai instrumen pendidikan yang menyapih jiwa dari ketergantungan pada materi. Puasa merupakan latihan kepatuhan total di mana akal memegang kendali penuh untuk memerintahkan “tahan” meski keinginan fisik berteriak menuntut pemuasan. Kemampuan menahan diri dari hal-hal yang semula halal demi memenuhi janji kepada Sang Khalik adalah cara efektif membangun otot spiritual agar senantiasa setia pada komitmen moral.

Umat saat ini tengah didera krisis integritas dan hilangnya kendali diri akibat tarikan materialisme yang agresif. Sering kali, akal justru disalahgunakan sebagai alat untuk mencari pembenaran atas keinginan nafsu, bukan sebagai pemimpin yang menuntun arah tindakan. Padahal, Rasulullah SAW telah menegaskan dalam hadis muttafaq ‘alaih bahwa kekuatan sejati bukanlah terletak pada keahlian bergulat, melainkan pada kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya sendiri. Maka, meletakkan kembali akal sebagai pemimpin di singgasana jiwa adalah manifestasi nyata dari upaya kembali kepada fitrah. Idulfitri yang dituju bukanlah sekadar perayaan lahiriah, melainkan momentum kemenangan atas pulihnya kedaulatan akal atas nafsu bahimiyyah atau tabiat kehewanan yang cenderung destruktif dan serakah.

Ketika nafsu telah jinak dan tunduk pada otoritas akal yang bersumber dari cahaya wahyu, saat itulah manusia mencapai derajat kemuliaan yang sebenarnya. Di hari-hari terakhir Ramadhan ini, rasa lapar yang tersisa menjadi pengingat bahwa manusia adalah makhluk ruhani yang memiliki kehendak bebas, bukan budak dari impuls rendah yang picik. Sebagaimana sebuah ungkapan bahwa akal adalah menteri yang jujur, sedangkan nafsu adalah musuh yang pandai bersolek, maka fungsionalisasi akal secara benar menjadi kunci utama keselamatan peradaban. Berakhirnya Ramadhan semestinya melahirkan pribadi yang teguh, tidak lagi terombang-ambing oleh perasaan sesaat, namun memiliki kendali diri yang kokoh dan berprinsip. Inilah esensi kemenangan yang otentik, di mana jiwa yang tenang telah berhasil kembali kepada Tuhannya dengan hati yang puas lagi diridhai. Menempatkan akal pada fungsinya yang tepat adalah jalan tunggal menuju fitrah manusia yang mulia.

Di pengujung Ramadhan, saat hari-hari suci mulai melambai perpisahan, esensi besar dari madrasah lapar dan dahaga ini patut diletakkan kembali pada hakikatnya yang paling mendasar. Puasa sejatinya merupakan sebuah tamrinun nafs, yakni latihan keras untuk menundukkan tabiat diri agar patuh di bawah komando akal yang jernih. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 70, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam,” para ulama menjelaskan bahwa inti kemuliaan tersebut terletak pada fungsi akal yang mampu mengenal Penciptanya serta membedakan kebenaran dari kebatilan.

Dalam realitas kehidupan modern yang serba instan, tantangan utama umat manusia sering kali berakar pada kegagalan pengendalian diri. Imam Shah Waliyyullah ad-Dahlawi dalam kitab Hujjatullah al-Balighah mengisyaratkan bahwa jiwa manusia kerap bersifat baghiyah atau membangkang; ia patuh sesaat namun memberontak di saat lain. Syahwat manusia ibarat kuda liar yang jika dibiarkan tanpa kendali akan menyeret penunggangnya ke jurang kehancuran. Di sinilah puasa hadir sebagai kerja keras yang menyapih jiwa dari ketergantungan pada materi. Puasa merupakan latihan kepatuhan total di mana akal memegang kendali penuh untuk berkata “tahan” meski keinginan fisik berteriak “pemuasan”. Kemampuan menahan diri dari hal-hal yang semula halal demi memenuhi janji kepada Sang Khalik adalah cara efektif membangun otot spiritual agar senantiasa setia pada komitmen dan janji.

Umat saat ini tengah didera krisis integritas dan hilangnya kendali diri akibat tarikan materialisme yang agresif. Sering kali, akal justru disalahgunakan sebagai alat untuk mencari pembenaran atas keinginan nafsu, bukan sebagai pemimpin yang menuntun arah tindakan. Padahal, Rasulullah SAW telah menegaskan dalam hadis riwayat Al-Bukhari bahwa kekuatan sejati bukanlah terletak pada keahlian bergulat, melainkan pada kemampuan seseorang dalam mengendalikan dirinya sendiri. Maka, meletakkan kembali akal sebagai pemimpin di singgasana jiwa adalah manifestasi nyata dari upaya kembali kepada fitrah. Idul Fitri yang dituju bukanlah sekadar perayaan lahiriah, melainkan momentum kemenangan atas pulihnya kedaulatan akal atas nafsu bahimiyyah atau tabiat kehewanan yang cenderung destruktif.

Ketika nafsu telah jinak dan tunduk pada otoritas akal yang bersumber dari wahyu, saat itulah manusia mencapai derajat kemuliaannya yang hakiki. Di hari-hari terakhir Ramadhan ini, rasa lapar yang tersisa menjadi pengingat bahwa manusia adalah makhluk ruhani yang memiliki kehendak bebas, bukan budak dari impuls rendah yang serakah. Sebagaimana ungkapan hikmah ulama bahwa akal adalah menteri yang jujur, sedangkan nafsu adalah musuh yang pandai bersolek, maka fungsionalisasi akal secara benar menjadi kunci utama keselamatan. Berakhirnya Ramadhan semestinya melahirkan pribadi yang teguh, tidak lagi terombang-ambing oleh perasaan sesaat, namun memiliki kendali diri yang kokoh. Inilah esensi kemenangan yang otentik, di mana jiwa yang tenang telah berhasil kembali kepada Tuhannya dengan hati yang puas lagi diridhai.

Share :